SHOOTLINENEWS.ID-BALOCCI PANGKEP|Tradisi sakral Mappalili “Mappaenre Copponanre” kembali digelar penuh khidmat di Rumah Wa Kasa, pemangku adat Kampung Bangkesakiang, Ritual tahunan ini menjadi penanda dimulainya musim tanam padi 2025–2026, dengan harapan besar terwujudnya swasembada pangan nasional.
Pelaksanaan Ritual Mappalili “Mappaenre Copponanre”, sebuah tradisi adat yang menandai dimulainya musim tanam padi dan melestarikan nilai budaya lokal.
Acara dihadiri Kapolsek Balocci Iptu Agus Indra Jaya, SH, Bhabinkamtibmas Aipda Amiruddin, tokoh adat, tokoh agama, Lurah Kassi Andi Cenrara, SKM, Ketua KTNA Balocci Irmawati, SP, Camat Balocci, Dinas Pariwisata Pangkep, kelompok tani, gapoktan, hingga masyarakat setempat.
Kegiatan bertempat di Rumah Wa Kasa, Kampung Bangkesakiang, Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.Senin siang, 17 November 2025,berlanjut hingga malam hari
Untuk menjaga kelestarian adat, mempererat kebersamaan, dan menandai dimulainya musim tanam padi sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan dan swasembada pangan.
Ritual berlangsung meriah dengan rangkaian kegiatan adat, doa bersama, pentas seni tari Mappedendang oleh siswa SMPN 1 Balocci, serta Tudang Sipulung sebagai forum musyawarah masyarakat. Kapolsek Balocci turut memberikan imbauan kamtibmas dan peringatan terkait Operasi Zebra serta ancaman cuaca ekstrem.
Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan pembacaan doa sebagai wujud harapan agar musim tanam berjalan lancar. Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan seni tari Mappedendang dari para pelajar. Malam harinya, kegiatan Tudang Sipulung menjadi ruang bertukar pikiran dan memperkuat silaturahmi warga.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolsek Balocci Iptu Agus Indra Jaya, SH mengingatkan masyarakat terkait pelaksanaan Operasi Zebra yang dimulai 17–30 November 2025. Ia juga mengimbau warga agar waspada terhadap potensi bencana alam seperti angin puting beliung, pohon tumbang, tanah longsor, dan banjir bandang akibat cuaca ekstrem.
Makna Ritual
Ritual Mappalili bukan hanya pelaksanaan adat, tetapi juga menjadi simbol komitmen masyarakat Bangkesakiang dalam menjaga ketahanan pangan. Semangat gotong royong yang tercermin dalam setiap rangkaian acara menjadi modal berharga bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.













