Desa Taraweang Wakili Sulsel dalam Ajang Nasional Penilaian Desa Berkinerja Baik Penurunan Stunting 2025

BERITA, PEMDA PANGKEP128 Dilihat

SHOOTLINENEWS.ID-PANGKEP |Desa Taraweang di Kecamatan Labakkang menorehkan prestasi membanggakan dengan terpilih sebagai wakil Provinsi Sulawesi Selatan dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik dalam Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025. Ajang bergengsi ini diselenggarakan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDTT) dan menjadi wadah evaluasi kinerja desa dalam upaya nyata menurunkan angka stunting secara nasional.

Penilaian dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Tahun ini, proses seleksi telah memasuki tahap verifikasi dokumen dan wawancara virtual yang digelar pada 11–13 Agustus 2025. Tim verifikator pusat melakukan penilaian daring melalui Zoom terhadap berbagai indikator kinerja desa dalam percepatan penurunan stunting.

Dalam sesi verifikasi, Camat Labakkang Bahri memaparkan data terkini mengenai kondisi Desa Taraweang. Tercatat ada 335 balita di desa tersebut, dengan 33 balita atau sekitar 9 persen teridentifikasi mengalami stunting per Agustus 2025—angka ini menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Program pendampingan juga menyasar 27 ibu hamil untuk pemenuhan gizi dan layanan kesehatan.

Desa Taraweang menampilkan tujuh inovasi unggulan dalam penanganan stunting, antara lain: Bantuan Gizi untuk Balita, Geriting Mantul, Garpu Bali, Dalleta Makessing, Badut Tarsan, Dewan Perak, dan Gaspol Dong. Inovasi-inovasi tersebut menjadi daya tarik tersendiri dalam penilaian, karena menunjukkan keterlibatan aktif masyarakat dan kreativitas desa dalam menjangkau kelompok sasaran.

Komitmen desa dalam penganggaran program stunting juga patut diapresiasi. Pada 2024, dana desa sebesar Rp312.224.625 dialokasikan untuk pemberian makanan tambahan, insentif kader, pengadaan posyandu, serta infrastruktur dasar seperti bak air. Sementara untuk tahun 2025, alokasi meningkat menjadi Rp429.172.000 dengan penambahan layanan seperti pemeriksaan USG untuk ibu hamil dan penyediaan sanitasi berupa sumur bor.

Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Pangkep, Andi Ombong Sapada, yang turut mendampingi proses penilaian menjelaskan bahwa ada enam indikator utama yang menjadi fokus penilaian, termasuk penggunaan aplikasi e-HDW oleh Kader Pembangunan Manusia (KPM). Dari sembilan desa berkinerja baik di Kabupaten Pangkep, hanya tiga desa yang masuk seleksi akhir, yaitu Desa Taraweang, Desa Bontobirao, dan Desa Lanne. Desa Taraweang kemudian ditetapkan sebagai perwakilan Sulawesi Selatan di tingkat nasional.

Indikator penilaian mencakup pelaksanaan rembuk stunting, kinerja KPM, rapat evaluasi PPS, konvergensi program, penggunaan dana desa, dan inovasi penurunan stunting. Penilaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi desa-desa lain untuk lebih aktif dan inovatif dalam menangani persoalan stunting.

“Kami berharap KPM tidak hanya sekadar menginput data, tapi juga menjadi fasilitator dan motivator agar stunting bisa terus menurun di desa,” tutup Andi Ombong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *