Ekskursi Arsitek UI Jakarta Jelajah Kehidupan Masyarakat Kajang Pelihara Harmoni Tradisi Dan Alam

BERITA, BUDAYA285 Dilihat

SHOOTLINENEWS.ID-BULUKUMBA SULSEL | Tim Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia (UI) Depok, Jakarta, tengah melaksanakan kegiatan eksplorasi budaya dan arsitektur di kawasan adat Tana Toa, Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini berlangsung sejak 13 Juli hingga 7 Agustus 2025, dan merupakan bagian dari program rutin ekskursi mahasiswa arsitektur UI.

Pada Kamis, 24 Juli 2025, sejumlah anggota tim terlibat langsung dalam pengamatan dan pendokumentasian ritual adat di dua rumah warga, termasuk rumah adat milik pemimpin adat tertinggi, Amma Toa. Sejak pagi hingga sore, beberapa divisi disibukkan dengan pengumpulan data lapangan di area luar, sementara menjelang malam, sebagian lainnya berpartisipasi dalam kegiatan ritual masyarakat di dalam kawasan Kajang.

Ketua Pelaksana Ekskursi ARSUI 2025, Maira Aisya, menjelaskan bahwa tema ekskursi kali ini adalah menjelajahi kehidupan masyarakat Kajang yang menjaga keseimbangan antara tradisi dan alam. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini melibatkan total 30 mahasiswa dari berbagai angkatan, yang terbagi dalam lima divisi utama: sketsa, pemetaan, film, foto, dan wawancara.

“Ekspedisi ekskursi kali ini bertujuan melakukan pengamatan, wawancara, dan pendokumentasian menyeluruh terhadap bangunan tradisional serta kehidupan sosial masyarakat Kajang. Ini menjadi bagian penting dari pembelajaran langsung bagi mahasiswa,” jelas Maira.

Adapun komposisi tim terdiri dari mahasiswa angkatan 2022 hingga 2024, yakni:

* Tim Pemetaan: Maira, Abel, Zara, Khansa, Melisa, Khalil, Kalila, Ara, dan Fiya.

* Tim Sketsa: Fira, Fathan, Caca, Quina, Elmerilia, Vin, Ashya, Ilham, dan Hanum.

* Tim Wawancara: Nabila, Gilbert, Nayaka, dan Zahna.

* Tim Film: Aghna, Halim, Acha, Naufal, dan Aisha.

* Tim Foto: Shaquille, Bhagas, dan Raniya.

Salah satu anggota tim wawancara, Zahna Joenia Sriputeri, mahasiswi angkatan 2024 dan alumnus SMA Negeri 1 Pangkep, menuturkan bahwa ekskursi ini memberikan pengalaman belajar yang sangat berbeda dari metode akademik konvensional. Ia menjelaskan bahwa ekskursi adalah bentuk pembelajaran lapangan yang memungkinkan mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan secara langsung dari sumbernya.

“Ini seperti belajar langsung dari kehidupan, mengamati secara dekat praktik sosial dan arsitektur lokal yang tidak kita temukan di ruang kelas,” ungkap Zahna.

Kedatangan tim ekskursi dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang pertama atau tim advance terdiri dari Maira, Abel, Nabila, Fathan, dan Nayaka, yang berangkat pada Minggu, 13 Juli 2025 dari Jakarta ke Makassar. Setelah mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bulukumba, termasuk dari Divisi Riset dan Inovasi, tim advance mulai memasuki wilayah Kajang Dalam pada 16 Juli.

Sementara itu, gelombang kedua atau tim utama berangkat pada Sabtu, 19 Juli 2025, dari Kampus UI Depok menuju Bandara Soekarno-Hatta. Mereka tiba di Makassar pada 20 Juli pukul 02.05 WITA dan melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Tana Toa Kajang, tiba pada pagi harinya sekitar pukul 08.40 WITA.

Sejak 21 Juli, seluruh tim mulai melaksanakan tugas masing-masing. Divisi wawancara, film, dan foto langsung terjun ke rumah-rumah warga untuk merekam kehidupan masyarakat. Tim sketsa dan pemetaan menyusuri wilayah Kajang Dalam, mengikuti ketentuan adat, termasuk menggunakan pakaian serba hitam dan tanpa membawa peralatan teknologi modern.

Dalam kunjungan dan interaksi dengan tokoh masyarakat setempat, termasuk Bupati Bulukumba, Kepala Riset dan Inovasi, Kepala Desa Tana Toa, serta para pemangku adat seperti Amma Toa dan para Galla (tokoh adat), tim mendapatkan banyak pelajaran berharga mengenai sejarah, arsitektur, dan ritual adat yang masih dijaga hingga kini.

“Banyak catatan menarik yang kami dapatkan, seperti bagaimana rumah tradisional mereka bersifat modular dan dapat dibongkar pasang sesuai kebutuhan acara adat. Selain itu, terdapat ritual khusus yang dilakukan untuk setiap kematian, dengan prosesi yang berlangsung setiap sepuluh hari hingga hari ke-100,” jelas Maira.

Ia menambahkan, dalam beberapa hari terakhir, tim telah mendokumentasikan berbagai kegiatan penting seperti ritual 20 hari kematian dan prosesi penancapan pagar. Selain itu, tim juga mengamati aktivitas harian masyarakat seperti berladang, membangun kandang ternak, dan proses pembangunan rumah.

Kegiatan ekskursi ini diharapkan menjadi kontribusi akademik sekaligus dokumentasi budaya yang penting bagi pelestarian nilai-nilai lokal masyarakat adat Kajang. Mahasiswa tak hanya belajar tentang struktur bangunan, tetapi juga memahami keterikatan masyarakat terhadap alam, adat, dan spiritualitas yang menyatu dalam kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *