Tangkal Radikalisme, Polda Sulsel Gelar FGD Bertema “Terorisme Musuh Kita Bersama” di Makassar

BERITA, POLRI209 Dilihat

SHOOTLINENEWS.ID-MAKASSAR | Dalam upaya memperkuat kontra radikalisasi dan meningkatkan kesadaran publik terhadap ancaman terorisme, Polda Sulawesi Selatan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Terorisme Musuh Kita Bersama”, Senin (26/5/25), di Aula Polrestabes Makassar.

Kegiatan ini dihadiri berbagai elemen strategis masyarakat seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, hingga mahasiswa.

FGD dibuka secara resmi oleh Kabag Penum Biro Penmas Divhumas Polri, Kombes Pol. Erdi A. Chaniago, S.I.K., S.H., M.Si., yang hadir didampingi oleh Kapolrestabes Makassar Kombes Pol. Arya Perdana, S.H., S.I.K., M.Si., dan Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol. Didik Supranoto, S.I.K., M.H.

Dalam sambutannya, Kombes Pol. Erdi menyampaikan bahwa terorisme dan paham radikal adalah ancaman nyata yang tidak hanya menyasar negara, tetapi juga merusak sendi kehidupan sosial masyarakat.

“Kelompok-kelompok teror menyebarkan ideologi kekerasan yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa. Ini adalah ancaman bersama, bukan hanya bagi Polri, tapi seluruh masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa melawan terorisme bukan hanya tugas aparat keamanan, tetapi membutuhkan sinergi seluruh lapisan masyarakat. “Dengan semangat gotong royong dan persatuan, kita pasti bisa melawan dan mencegah penyebaran paham-paham radikal,” tambahnya.

FGD ini menjadi ruang dialog terbuka antara kepolisian dan masyarakat, membahas bagaimana mengenali tanda-tanda awal radikalisasi di lingkungan sekitar, baik melalui interaksi sosial, pendidikan, tempat kerja, maupun media digital.

Peserta juga diajak memahami pentingnya membangun ketahanan keluarga dan komunitas berbasis nilai-nilai Pancasila. “Pancasila adalah tameng moral kita. Bila masyarakat memegang teguh nilai-nilai ini, maka ideologi radikal tidak akan mendapat tempat,” ujar Kombes Pol. Erdi.

Salah satu momen paling menyentuh dalam kegiatan ini adalah pemaparan dari Ustadz Muchtar Daeng Lau, mantan narapidana kasus terorisme yang kini aktif berdakwah dan terlibat dalam program deradikalisasi.

Dalam kesaksiannya, Ustadz Muchtar mengingatkan pentingnya verifikasi informasi, terutama di era media sosial yang sangat rentan disalahgunakan untuk penyebaran hoaks dan paham ekstremis.

“Saring sebelum sharing. Banyak yang terjebak radikalisme karena informasi palsu yang tersebar di grup-grup tanpa konfirmasi. Jangan hanya cari like dan komentar, tapi cari kebenaran,” pesannya.

Ia juga mengungkap bahwa perubahan dirinya berawal dari kesadaran akan bahayanya ideologi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kini, ia berdakwah dengan pesan damai dan cinta tanah air.

Melalui kegiatan ini, Polda Sulsel berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa menjaga NKRI dari bahaya terorisme adalah tanggung jawab bersama. FGD ini tidak hanya menjadi wadah edukasi, tetapi juga memperkuat jejaring sosial antara aparat keamanan dan elemen masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus menggelorakan nilai-nilai persatuan, menjaga toleransi, dan menolak segala bentuk kekerasan serta paham ekstremisme yang mengancam keutuhan bangsa.

“Mari kita jaga Indonesia bersama-sama. Karena terorisme bukan hanya musuh Polri, tetapi musuh kita semua,” pungkas Kombes Pol. Erdi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *