Unhas dan UMI Perkuat Ekosistem Ilmu Kepolisian Hadapi Kompleksitas Zaman

BERITA, POLRI99 Dilihat

SHOOTLNEWS-MAKASSAR, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bersama perguruan tinggi terus memperkuat ekosistem ilmu kepolisian sebagai upaya menghadapi semakin kompleksnya persoalan masyarakat dan tantangan perkembangan zaman.

Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem tersebut melalui pengembangan Pusat Studi Kepolisian serta kerja sama akademik dengan Polri.

Peresmian Pusat Studi Kepolisian Unhas berlangsung di Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Rabu (9/9/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Polri, akademisi, serta sejumlah pemangku kepentingan. Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo memberikan sambutan secara virtual dari Jakarta.

Dalam sambutannya, Wakapolri mengapresiasi langkah Unhas dan UMI yang membuka ruang kolaborasi antara institusi kepolisian dengan dunia akademik.

“Bagi Polri, perguruan tinggi merupakan mitra penting dalam memperkaya perspektif dan mengembangkan ilmu kepolisian. Kami sangat menghargai keterbukaan kampus untuk bersama-sama membangun pengetahuan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Dedi Prasetyo.

Menurut Wakapolri, Pusat Studi Kepolisian perlu dikembangkan sesuai dengan karakter, kompetensi, serta keunggulan masing-masing perguruan tinggi. Keberagaman fokus kajian tersebut justru dinilai menjadi kekuatan dalam membangun jejaring keilmuan kepolisian secara nasional.

Unhas Dorong Ilmu Kepolisian Berbasis Persoalan Masyarakat

Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa mengatakan, kolaborasi dengan Polri memiliki makna strategis bagi pengembangan dunia akademik sekaligus mendukung institusi kepolisian dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

“Polisi membutuhkan ilmu untuk menghadapi kompleksitas zaman, dan ilmu membutuhkan polisi untuk memastikan bahwa pengetahuan benar-benar hadir di tengah persoalan masyarakat,” kata Jamaluddin.

Ia berharap Pusat Studi Kepolisian Unhas tidak sekadar menjadi lembaga yang terbentuk secara administratif, tetapi menjadi ruang yang aktif dalam mempertemukan teori, penelitian dan persoalan nyata di tengah masyarakat.

“Pusat studi ini jangan hanya menjadi lembaga yang dibentuk secara administratif. Kita ingin menjadi ruang yang hidup untuk berdiskusi, melakukan penelitian, dan menghasilkan kajian yang dapat menjawab persoalan nyata di masyarakat,” jelasnya.

Jamaluddin mencontohkan persoalan destructive fishing yang membutuhkan pendekatan lintas disiplin agar dapat dikaji secara lebih komprehensif. Karena itu, Unhas membuka peluang kolaborasi berbagai bidang ilmu untuk menghasilkan penelitian dan rekomendasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat maupun institusi penegak hukum.

UMI Siap Perkuat Kolaborasi Keilmuan

Sementara itu, Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib dalam kegiatan tersebut diwakili Wakil Rektor II Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng.

Zakir menegaskan bahwa hubungan Polri dan UMI dibangun atas semangat kemitraan dan saling memperkuat.

“Polri dan UMI saling menumbuhkan. Polri memiliki pengalaman dan pengetahuan dari berbagai persoalan nyata di lapangan, sedangkan UMI memiliki sumber daya manusia, kapasitas penelitian, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu. Keduanya dapat dipertemukan untuk saling memperkuat,” ungkap Zakir.

Menurutnya, UMI memiliki kekuatan keilmuan yang beragam, mulai dari hukum, teknologi, kecerdasan buatan, keamanan siber, ekonomi, energi, kesehatan, lingkungan, agama hingga ilmu sosial.

Keragaman tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mengembangkan kajian kepolisian yang lebih komprehensif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Kita ingin Pusat Studi Kepolisian menjadi ruang untuk menghasilkan kajian, inovasi, dan rekomendasi. Bukan hanya membicarakan persoalan setelah terjadi, tetapi juga membantu membaca risiko dan menyiapkan berbagai kemungkinan sejak dini,” katanya.

Dorong Evidence-Based Policing

Wakapolri menjelaskan, pengembangan jejaring Pusat Studi Kepolisian merupakan bagian dari upaya memperkuat pendekatan evidence-based policing, yakni praktik kepolisian yang didukung data, penelitian dan pengujian ilmiah.

Melalui pendekatan tersebut, pengalaman praktis anggota kepolisian di lapangan dapat dipertemukan dengan metodologi serta perspektif akademik sehingga menghasilkan pengetahuan yang relevan dan dapat diterapkan.

“Kami berharap pusat studi ini dapat menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman praktis kepolisian dengan kekayaan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi. Dari sana kita dapat saling belajar dan bersama-sama mencari solusi yang terbaik,” ujar Wakapolri.

Ia juga menilai mahasiswa memiliki posisi penting dalam ekosistem tersebut. Pemikiran kritis, kreativitas dan perspektif generasi muda diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pengembangan ilmu kepolisian.

79 MoU Polri dengan Perguruan Tinggi

Penguatan kerja sama tersebut menjadi bagian dari langkah Polri membangun jejaring akademik secara nasional. Hingga saat ini, Polri telah menjalin 79 MoU dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, dengan 41 perguruan tinggi telah meresmikan dan mengoperasionalkan Pusat Studi Kepolisian.

Selain itu, di lingkungan internal Polri telah dikembangkan 16 Pusat Studi Kepolisian dengan berbagai fokus keilmuan, di antaranya Polmas, antikorupsi, terorisme, siber, sumber daya manusia, teknologi kepolisian, forensik, keamanan nasional, keadilan restoratif dan transformasi konflik hingga intelijen kepolisian.

Wakapolri berharap jejaring tersebut tidak berhenti sebagai jaringan kelembagaan, tetapi berkembang menjadi jaringan pengetahuan yang saling terhubung dan menghasilkan berbagai kajian strategis.

“Ukuran keberhasilan kita bukan semata-mata berapa banyak kerja sama yang dibuat atau berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Yang jauh lebih penting adalah seberapa besar pengetahuan, penelitian, dan kolaborasi tersebut dapat memberikan manfaat serta menghadirkan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat,” pungkas Dedi.

Peresmian Pusat Studi Kepolisian di Unhas dan penguatan kerja sama dengan UMI menjadi momentum penting dalam mempertemukan kekuatan institusi kepolisian dengan kapasitas dunia akademik.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan riset, inovasi, rekomendasi kebijakan dan sumber daya manusia yang semakin adaptif, sekaligus mendukung terwujudnya kepolisian yang profesional, modern dan mampu menjawab tantangan masyarakat di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *