SHOOTLINENEWS.ID-PANGKEP | Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Program Aksi Stop Stunting (ASS) resmi menyasar 21 lokus di Kabupaten Pangkep sebagai bagian dari upaya menurunkan angka stunting di wilayah tersebut. Sebanyak 21 Tenaga Pendamping Gizi Desa (TPGD) disiapkan untuk terjun langsung ke masyarakat dan menjalankan tugas mereka di lapangan.

Keberangkatan para tenaga pendamping ini dilepas langsung oleh Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau, bersama Ketua TP PKK dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep. Seremonial penerimaan berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep. Senin (28/7/25)
Dalam sambutannya, Bupati Yusran menyampaikan bahwa pelaksanaan program ini merupakan bagian dari agenda strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi permasalahan stunting secara menyeluruh.
Yusran juga menjelaskan lima poin utama yang menjadi fokus pelaksanaan program ASS di Pangkep. Pertama, deteksi dan penemuan kasus balita stunting serta kasus wasting atau gizi buruk akut. Kedua, intervensi gizi yang dilakukan melalui penguatan Rumah Gizi sebagai pusat edukasi dan layanan pemenuhan gizi masyarakat. Ketiga, pencatatan data yang akurat agar bisa dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan dan evaluasi program. Keempat, pendampingan berkelanjutan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat seperti kader PKK, KB, dan Posyandu. Terakhir, evaluasi dan monitoring program secara berkala.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep, Hj Herlina, menambahkan bahwa para tenaga pendamping akan ditugaskan di 21 lokus dengan angka stunting yang tergolong tinggi. Ia berharap keberadaan TPGD bisa membantu mempercepat penanganan anak stunting secara lebih efektif dan tepat sasaran.
“Keberadaan tim pendamping ini diharapkan dapat membantu anak-anak stunting. Kita berharap, suatu saat nanti, tidak ada lagi kasus stunting di Pangkep,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa tugas TPGD tidak hanya terbatas pada penanganan stunting, tetapi juga mencakup kasus gizi buruk maupun kelebihan berat badan pada anak.
“Setiap lokus akan ditangani 30 anak. Harapan kami, program ini bisa berjalan dengan baik dan mendapat dukungan dari masyarakat, terutama orang tua yang memiliki anak dengan kondisi stunting,” pungkasnya.













