Cadika Limbung Bukan Sekadar Aset, Tapi Warisan Sejarah Pramuka Gowa

BERITA, OPINI384 Dilihat

GOWA SULSEL, Bumi Perkemahan Cadika Limbung bukan sekadar lahan milik pemerintah daerah. Kawasan yang telah ditetapkan sejak tahun 1975 sebagai pusat kegiatan kepramukaan itu menyimpan sejarah panjang pembinaan karakter dan pengkaderan generasi muda di Kabupaten Gowa.

Status Cadika Limbung memang tercatat sebagai aset Pemerintah Kabupaten Gowa. Namun secara khusus, kawasan tersebut sejak awal telah diperuntukkan sebagai bumi perkemahan Pramuka dan penyerahannya pun tertuang resmi dalam sertifikat. Karena itu, keberadaan Cadika memiliki nilai historis yang jauh melampaui sekadar aset fisik.

Selama empat tahun terakhir, sejak 2020 hingga 2024, Pemerintah Daerah Gowa bahkan telah melakukan revitalisasi besar-besaran di kawasan tersebut. Anggaran yang tidak sedikit digelontorkan untuk memperbaiki fasilitas dan memaksimalkan fungsi Cadika sebagai pusat kegiatan kepemudaan dan kepramukaan yang representatif.

Revitalisasi itu menjadi bukti bahwa Cadika Limbung selama ini dipandang penting sebagai ruang pendidikan karakter, tempat lahirnya semangat kedisiplinan, kepemimpinan, dan pengabdian bagi generasi muda.

Namun belakangan, muncul wacana pengalihfungsian kawasan Cadika untuk pembangunan sekolah rakyat. Sementara itu, lokasi bumi perkemahan direncanakan dipindahkan ke wilayah Parangloe atau Pattallassang dengan memanfaatkan lahan kosong yang tersedia.

Rencana tersebut memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat, khususnya kalangan Pramuka dan para alumni yang memiliki ikatan emosional dengan Cadika Limbung.

“Kenapa sekolah rakyat tidak dibangun di lahan kosong saja? Mengapa harus memindahkan pusat sejarah dan pengkaderan Pramuka yang sudah hidup puluhan tahun di Cadika?” demikian pertanyaan yang kini ramai disuarakan berbagai pihak.

Bagi banyak orang, Cadika Limbung bukan hanya hamparan tanah. Tempat itu telah menjadi saksi perjalanan panjang lahirnya kader-kader Praja Muda Karana. Dari bumi perkemahan tersebut, banyak tokoh, pemimpin, hingga pengabdi bangsa ditempa melalui proses pendidikan nonformal yang menanamkan nilai tanggung jawab, kebersamaan, dan cinta tanah air.

Karena itu, menjaga Cadika Limbung dinilai bukan semata mempertahankan sebuah lokasi, melainkan menjaga warisan sejarah pendidikan karakter yang telah hidup lintas generasi.

Sejarah, menurut para pemerhati Pramuka, tidak seharusnya terputus hanya karena perubahan kebijakan sesaat. Sebab ketika Cadika tetap berdiri, maka warisan nilai dan semangat pengkaderan generasi muda di Kabupaten Gowa akan terus hidup untuk masa depan.

 

Oleh: Faisal Salahuddin Marowa

Purna Bhakti Kepala Bumi Perkemahan Cadika 2020–2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *